Showing posts with label Bogor Unik. Show all posts
Showing posts with label Bogor Unik. Show all posts

Pembuat Gong Tertua di Bogor, Bahkan di Jawa Barat

11/05/2015 10:34:00 AM Add Comment
Pembuat Gong Tertua di Bogor, Bahkan di Jawa Barat - Pembuat Gong yang terletak di Jalan Pancasan No. 17, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogo adalah pabrik gong tertua dan bisa jadi satu-satunya di Jawa Barat. Jalan Pancasan terletak berdempetan dengan tepian hiruk-pikuknya Kota Hujan. Pabrik gong ini berjarak 2 kilometer dari Kebun Raya Bogor.

Pabrik Gong Bogor


Tulisan berwarna merah “Gong Factory” masih terlihat di tembok kuning yang mulai pudar. Masyarakat Bogor lebih mengenalnya sebagai Gonghome. Pabrik gong tua ini dikelola Haji Sukarna dengan dibantu anaknya Kang Krisna.

Pabrik Gong ini menempa logam timah bercampur tembaga, telah ada lebih dari 300 tahun. Di pabrik ini keterampilan membuat gong diturunkan selama 6 generasi dan tak pernah berpindah jalur keturunan atau lokasi.



Saati ini pelataran parkir pabrik gong ini hanya cukup untuk dua mobil, malahan sekarang harus berbagi sebagai tempat untuk menjemur kenyi, yaitu cetakan dari tanah liat untuk membuat gong, bonang, dan saron, beragam perkusi dari sebuah set gamelan degung lengkap.

Para pekerja bergiliran menempa sebuah lingkaran besar berwarna merah memutih, baru kemudian dikeluarkan dari api membara. Besi lingkaran itu kembali dimasukkan ke dalam tungku api bersuhu 400 derajat Celsius.



Dalam 1 hari kerja, mereka dapat membuat dua gong besar. Pekerjaan yang mereka lakukan dimulai dari mencampurkan timah dan tembaga sebagai bahan dasar, kemudian mencetaknya dengan bantuan cetakan tanah liat, menempanya, kemudian membersihkan kerak oksidasi berwarna hitam. Biasanya untuk mengerjakan satu buah gamelan degung lengkap yang siap pakai diperlukan satu bulan penuh.

Untuk satu set Gamelan Degung berbahan dasar perunggu yang terdiri dari Bonang, Saron, Jengglong, satu gong kecil (diameter 50 cm) dan satu  gong besar (ukuran 75-85 cm), Pak Haji Sukarna mematok harga Rp 35 juta hingga Rp 40 juta. Adapun harga untuk Gong terkecil dengan berat 3 kg dijual seharga Rp 900 ribu, ukuran sedang dengan berat 7 Kg seharga Rp 2 juta. Gong berukuran besar dengan berat 10 kg dijual dengan harga Rp 3 juta, sedangkan yang berukuran 20 kg dijual seharga Rp 6 juta. (Berita Bogor)

Jembatan Putus Cinta di Kebun Raya Bogor

10/16/2015 08:40:00 PM Add Comment
Jembatan Putus Cinta di Kebun Raya Bogor - Kebun Raya Bogor adalah taman luas rimbun dengan beragam pepohonan, bisa menjadi tempat ideal untuk bercengkrama dengan keluarga atau pun dengan kekasih. Sudah tahu belum, kalau di Kebun Raya Bogor terdapat mitos yang diyakini masyarakat sekitar bahwa kisah cinta bisa putus di Kebun Raya Bogor.



Enin (50), seorang pengunjung Kebun Raya Bogor mengatakan, "Sebaiknya jangan pacaran di sini. Terlebih jika mengabadikan momen cinta di Jembatan Merah. Banyak yang cerita, kalau pasangan kekasih akhirnya berpisah setelah melalui jembatan bercat merah yang berada di atas Kali Ciliwung itu," jelasnya.

"Sebenarnya bukan hanya Jembatan Merah tetapi seluruh Kebun Raya Bogor. Katanya sih begitu, tapi yang paling sering bilang sih di Jembatan Merah situ," tambah Enin kepada BogorNow!

"Banyak yang bilang begitu, kalau pacaran di sini biasanya gak bakal langgeng. Konon katanya karena jembatan gantung itu, " jelas Udin, seorang pegawai di Kebun Raya Bogor sambil menunjuk jembatan gantung berwarna merah.


Udin telah bekerja hampir 15 tahun di kebun raya seluas 87 Ha menambahkan bahwa mitos itu sudah terlanjur mengakar kuat di masyarakat khususnya kota hujan ini. Seperti mitos lainnya ada percaya ada juga yang tidak.

"Tapi itu balik lagi ke diri masing-masing. Mungkin kalau bener itu hanya kebetulan saja, dan saya kira masih banyak yang langgeng walaupun pernah pacaran di situ," terangnya.


Baca Juga :   Pohon Jodoh di Kebun Raya
Jembatan gantung berwarna merah ini tergolong istimewa. Penahan utama jembatan ini adalah kabel besi fleksibel yang terbentang antara kedua sisi. Dengan model gantung tersebut, jembatan bisa merentang dengan jarak yang cukup jauh tanpa harus ada pilar kuat yang menyangganya di tengah-tengahnya. Satu contoh gantung yang paling terkenal adalah The Golden Gate of San Fransisco.
 (Berita Bogor)

Pohon Jodoh di Kebun Raya Bogor

10/16/2015 08:30:00 PM Add Comment
Pohon Jodoh di Kebun Raya Bogor - Kebun Raya Bogor banyak menyimpan banyak cerita unik,  yang hingga kini masih banyak dipercaya sebagian masyarakat. Di antaranya yaitu jembatan (putus) cinta, konon barang siapa yang berpacaran di Kebun raya, akan kandas hubungannya. Selain itu terdapat juga cerita mengenai pohon jodoh. Konon pasangan yang berkenalan di dekat pohon jodoh di Kebun Raya ini, maka hubungan keduanya akan ke jenjang pernikahan.


Cerita unik di atas bersumber pada adanya dua pohon yang "serupa." Letak kedua pohon ini tidak jauh dari jembatan gantung berwarna merah. Di tengah kedua pohon ini terdapat kursi panjang yang terbuat dari beton sebagai tempat duduk pengunjung, yang lelah berjalan.

"Pohon yang berwarna hitam ini pohon kenari dan pohon di sebelahnya yang berwarna putih adalah pohon beringin putih, tetapi kalau orang tidak tahu keduanya dianggap pohon yang sama," papar Nanang, seorang pemandu wisata di Kebun Raya Bogor.

Nah, karena kemiripan bentuk dan perbedaan warnanya saja, kedua pohon tersebut dianggap perlambang sepasang kekasih, laki-laki dan perempuan. Pohon kenari yang berwarna hitam adalah si laki-laki dan pohon beringin putih yang kuning adalah perempuannya.Keduanya seakan dijodohkan alam untuk ditempatkan di Kebun Raya. Tidak heran, bila kedua pohon ini kemudian disebut pohon jodoh.  "Entah bagaimana awalnya, sehingga banyak yang bilang di tempat ini kedua pohon ini bertemu dan berjodoh.  Makanya sering disebut pohon jodoh. Nah, konon kalau kenalan dengan pasangan lawan jenis di sini bisa langgeng, tetapi itu kepercayaan masing-masing gak ada buktinya," jelasnya.

Cerita pohon jodoh ini membuat banyak penasaran orang. Tidak sedikit yang ingin mencari jodoh di Kebun Raya. "Kalau orang luar kota ke sini, pasti yang ditanya dimana lokasi jembatan merah sama pohon jodoh. Mereka banyak yang pengen tahu," ujar Tatang, petugas kebersihan di Kebun Raya Bogor.

Baca Juga : Jembatan Putus Cinta di Kebun Raya Bogor 
Banyaknya cerita unik ini, tidak dipungkiri membuat daya tarik tersendiri untuk Kebun Raya Bogor. Tidak heran banyak pengunjung yang sengaja datang untuk melihat pohon jodoh dan jembatan putus cinta di jantung kota Bogor ini.

Cerita unik pohon jodoh ini juga sering dikait-kaitkan dengan makam keramat Ratu Galuh. Hal tersebut dikarenakan lokasi pohon jodoh ini memang tidak jauh dari komplek makam istri kedua Prabu Siliwangi itu."Jadi selain bisa memutuskan orang pacaran, Kebun Raya juga tempat mencari jodoh. Begitulah kira-kira kata orang dulu. Hahahahha," kelakar Tatang. (Berita Bogor)

Jalan-Jalan Menyusuri Pecinan di Bogor

10/16/2015 06:40:00 PM Add Comment
Jalan-Jalan Menyusuri Pecinan di Bogor - Dalam beberapa tahun terakhir ini, Bogornow suka sekali menyusuri kawasan Pecinan di Bogor, khususnya di Jalan Suryakencana. Pertama pastinya karena kulinernya. Pecinan Bogor, sudah pasti dan tak diragukan merupakan satu pusat kuliner di berbagai kota. Kedua, identik dengan bangunan tua.


Seperti kawasan Pecinan lain di berbagai kota di Indonesia, Pecinan Bogor juga dekat dengan kawasan Pasar, tepatnya Pasar Bogor. Terletak di Jalan Surya Kencana, yang merupakan bagian dari jalan Raya Pos Daendels. Dahulu, jalan ini bernama Handelstraat atau jalan Perniagaan, yang menandakan fungsinya sebagai sentra ekonomi. Pada masa itu, golongan atas peranakan Tionghoa biasanya tinggal di bagian selatan. Mereka mendirikan rumah yang bergaya campuran Tionghoa - Eropa. Adapun golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, dan golongan bawah menghuni ruko-ruko sewa dan rumah-rumah petak di balik ruko.


Saat memasuki kawasan ini, di bagian kiri jalan terdapat klenteng Hok Tek Bio, biasa disebut juga vihara Dhanagun, yang sudah berdiri sejak 1867. Kelenteng ini termasuk klenteng tertua di Bogor. Lebih ke dalam lagi, ada beberapa rumah-rumah tua yang masih dapat kita jumpai. Seperti di jalan Lawang Seketeng dan jalan Kelenteng. Sebagian rumah dalam kondisi terurus dan masih didiami, sebagian lainnya dibiarkan meranggas dimakan usia. Berikut beberapa foto, saat Bogornow menyusurinya.


 (Berita Bogor)

Taman Air Mancur menjadi Benda Cagar Budaya

10/12/2015 07:58:00 AM Add Comment
"Taman Air Mancur yang berada di Jalan Jendral Sudirman merupakan kawasan yang termasuk dalam daftar benda cagar budaya (BCB), " kata Shahlan rasyidi, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif, Kota Bogor, Jawa Barat.


"Taman Air Mancur masuk dalam daftar BCB yang sedang didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya yang dimiliki Kota Bogor," tambah Shahlan di Bogor.

Shahlan juga ikut mengkritisi adanya reklame yang dipasang di Taman Air Mancur dapat mengurangi nilai estetika sejarah keberadaan pusat titik nol Kota Bogor.

Tidak hanya itu, lanjut Shahlan, pembangunan di kawasan sepanjang Jalan Sudirman telah membuat garis imajiner antara Istana Bogor dengan Air Mancur menjadi tidak satu garis lurus lagi.

"Jalan Sudirman itu dulunya merupakan jalan utama di Kota Bogor, bagian dari Jalan Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer sampai Panarukan yang dibangun pada zaman Hindia Belanda di masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels," jelasnya.

Shahlan juga mengatakan bahwa Taman Air Mancur yang ada di Kota Bogor termasuk air mancur pertama paling tua yang ada di Indonesia.

"Maka itu kita telah mendaftarkan Air Mancur sebagai Benda Cagar Budaya, tujuannya agar warisan budaya ini tetap terjaga, lestari dan tidak rusak," tambahnya.



Lokasi Air Mancur dulunya adalah lokasi Witte Pall (Pilar Putih) yang menjadi titik triagulasi primer Pulau Jawa dibangun oleh Gubernur Jenderal DJ De Eerens dihancurkan pada tahun 1836-1840.

Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1958, panitia mengusulkan agar semua peninggalan Belanda dimusnahkan termasuk Witte Pall. Pada tahun 1964, Witte Pall dihancurkan dengan cara didinamit, lalu bekas tempat yang kosong dibangun kolam lengkap dengan air mancur.

Sejak zaman dulu hingga sekarang, lokasi witte pall ramai dikunjungi khususnya remaja yang menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman-teman di hari libur. Pemerintah Kota Bogor melakukan penataan dengan mempercantik kawasan Air Mancur.  (Berita Bogor)

Maulid Nabi di Empang Bogor

10/11/2015 11:50:00 AM Add Comment
Maulid Nabi di Empang Bogor -Di bulan Rabiulawal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, di berbagai tempat berlangsung peringatan Maulid Nabi. Di Indonesia Maulid Nabi diperingati sampai dua bulan kemudian.


Di antara penyelenggara Maulid ini adalah Masjelis Taklim Habib Ali Kwitang . Ada yang khas untuk peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan di Masjelis Taklim ini yaitu berupa hidangan beratus-ratus nampan nasi kebuli.  Tiap nampan untuk lima atau enam orang. Mereka makan bersama dari satu nampan tanpa piring. Tidak diketahui apakah ini mencontoh kebiasaan di Hadramaut. Menurut Habib Abdurahman, hidangan nasi kebuli pada peringatan Maulid Nabi telah dimulai pada masa Habib Ali Alhabsyi, ulama kelahiran Kwitang tahun 1869. Dia memuji kelezatan kebuli Kwitang, yang tidak ada duanya, bukan hanya di Jakarta tapi di Indonesia. ”Kunci kelezatannya ada pada minyak samin yang saya olah sendiri yang tidak kalah dengan samin dari Arab dan Hyderabad India,” katanya.



Nasi kebuli diyakini berasal dari India ketika para imigran Hadramaut pada abad ke-18 sebelum ke Nusantara terlebih dulu singgah cukup lama di Gujarat. Dugaan itu diperkuat oleh fakta bahwa makanan pokok di Hadramaut bukan nasi tapi roti gandum. Setiba di Indonesia mereka membuat nasi kebuli yang sehari-hari biasa mereka nikmati di Gujarat. Nasib kebuli Kwitang, menurut Habib Abdurahman, untuk bumbunya saja dia mencampur 29 macam rempah. Meskipun nasi kebuli Kwitang paling top, tapi tidak dikomersilkan.

Pada masa hidupnya, Habib Ali bersama gurunya, Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Empang-Bogor), telah mengatur adanya Pekan Maulid Nabi di Jakarta dan Bogor. Seperti di Kwitang, pada hari Rabu berlangsung Maulid Nabi di Bogor. Kemudian, pada Sabtu di Al-Hawi, Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pada hari Ahad di Masjid Luar Batang, Pasar Ikan, dan Senin di Masjid Kampung Bandan, Jakarta Utara.

Ada hidangan yang tidak terdapat di tempat lain, selain pada acara Maulid Nabi di Kwitang. Yaitu, hidangan kharissadari kata muaris (penganten). Makanan ini disediakan untuk santap Jumat pagi setelah Maulid Subuh.  (Berita Bogor)

Kota Bogor

10/10/2015 10:01:00 PM Add Comment
Kota Bogor, sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, Kota Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (boit'n-zĂ´rkh) yang berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram". Kota Bogor terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Dulu luasnya 21,56 km², namun saat ini telah berkembang menjadi 118,50 km² dan berpenduduk 1.934.796 jiwa (BPS 2010). 

Kota Bogor


Kota Bogor juga dikenal dengan julukan kota hujan, karena Kota Bogor memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Saat ini Kota Bogor memiliki 6 (enam) kecamatan, yaitu Bogor Barat, Bogor Selatan, Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Utara, dan Tanah Sareal serta dibagi lagi menjadi 68 kelurahan. 

Tanggal 3 Juni dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor 3 Juni. Tanggal itu diambil karena pada tanggal 3 Juni 1482 adalah saat penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.

Bogor juga berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dibuat sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa, Bogor berarti pohon kawung dan kalau digunakan sebagai kata kerja "dibogor" berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, pabogoran berarti kebun kaung, sedang pada bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, L Bogor berarti droogetapte kawoeng (pohon enau yang telah habis disadap) atau bladerlooze en taklooze boom (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Dengan kata lain istilah tersebut sama dengan pengertian kata pugur atau pogor.  (Berita Bogor)