Showing posts with label Bogor Tempo Dulu. Show all posts
Showing posts with label Bogor Tempo Dulu. Show all posts

Lapas Paledang

1/31/2016 09:25:00 AM Add Comment
Lapas Paledang - Kalau kamu keluar dari Stasiun Bogor melalui pintu selatan yang menghadap Jalan Kapten Muslihat, saat kamu menatap ke arah barat daya, akan tampak bangunan berlantai dua dengan warna biru muda agak abu-abu. Kalau kamu belum tahu, Bangunan itu adalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II Bogor, yang lebih dikenal dengan sebutan Lapas Paledang.

Lapas Paledang


Lapas Paledang ini terletak di Jalan Paledang No. 2 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi lapas ini tepat berada di sebelah tangga penyeberangan jalan bagian selatan yang kamu gunakan untuk menyeberang dari stasiun bogor.

Lapas Paledang ini memiliki luas bangunan mencapai 2.717 m² di atas lahan sekitar 8.185 m² ini. Bagunan ini didirikan pada tahun 1906 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Saat ini, bagian depan gedung lapas ini telah mengalami perubahan karena telah direnovasi. Hanya bagian tengah saja yang masih memperlihatkan bangunan peninggalan kolonial.

Ketika dibagun, lapas paledang ini bernama penjara hingga tahun 1964. Lalu, pada tahun 1983 Lapas Paledang ditetapkan sebagai Lapas yang berfungsi ganda, yaitu sebagai Lapas yang membina narapidana, juga sebagai Rumah Tahanan Negara (Rutan).

Semenjak Dr. Saharjo sebagai Menteri Kehakiman memprakarsai berlakunya sistem pemasyarakatan, melalui Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor: M.01.PR.07.03 tahun 1985 tentang Organisasi dan Tata Kerja, istilah Rumah tahanan (Rutan) berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

(Berita Bogor)

Hotel Pasar Baru Bogor

10/16/2015 06:31:00 PM 1 Comment
Hotel Pasar Baru Bogor - Di Kota Bogor masih menyimpan banyak bangunan kuno peninggalan masa penjajahan Belanda yang masih berdiri kokoh. Diantaranya adalah bangunan Hotel tertua di Kota Bogor tepatnya didalam Pasar Bogor yang terletak di Jalan Suryakencana Bogor Tengah. Nama Indonesianya adalah Hotel Pasar Baroe. Saat ini tidak banyak yang mengetahui bahwa hotel ini adalah hotel tertua di Kota Bogor selain Hotel Salak dan Hotel Belavue, namun Hotel Belavue telah dibongkar dan kini di lokasi tersebut berdiri pusat perbelanjaan Bogor Trade Mal (BTM).



Hotel Pasar Baroe ini berlantai dua di atas lahan seluas 1.200 meter persegi tersebut memiliki keunikan arsitektur, karena perpaduan antara arsitektur Eropa dan Tionghoa. Hotel Pasar Baroe mulai berkembang sejak beroperasinya kereta api dari Batavia ke Buitenzorg pada tahun 1873 hingga peralihan abad 20.



Hotel Pasar Baroe pada masanya menjadi primadona untuk para pelancong yang berkunjung ke Bogor selain Hotel Salak dan Hotel Belavue. Biasanya hotel Pasar Baroe dikunjungi oleh pelancong yang menjadi tempat pelesiran bagi warga Timur Asing seperti Tionghoa, Arab dan Bumiputera (Indonesia). Hotel Salak dan Hotel Belavue masa itu tergolong sangat mewah sehingga hanya dapat dinikmati oleh warga Belanda dan Eropa lainnya. Konon seorang pendiri Sjarikat Islam (SI) yang juga anggota pergerakan nasional yaitu Tirto Adhi Soerjo pada saat menjalan aktivitas atau kegiatan politiknya di Buitenzorg, seringkali menginap di Hotel Pasar Baroe. Pada masa itu, kawasan Hotel Pasar Baroe itu merupakan wilayah pertemuan antara Kelenteng Weg (Jalan Kelenteng Hok Tek Bio) dengan Pasar Weg (Jalan Pasar) pada masa kolonial Belanda.

Menurut Nyonya Lim Hie Nio (59), cucu pengurus Hotel Pasar Baroe yaitu Lim Siang Hien (84), Hotel Pasar Baroe beroperasi sejak jaman kolonial Belanda, kemudian hotel itu sempat dihuni oleh sejumlah keluarga dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga berakhirnya peristiwa G.30 S/PKI. Hotel Pasar Baroe sudah dua kali bepindah tangan dari pemilik pertamanya. Awalnya, Hotel Pasar Baroe adalah milik Tan Kwan Hong yang sekarang tinggal di wilayah Jalan Perinstis Kemerdekaan atau biasa disebut Jalan Merdeka. Kemudian hotel itu dijual kepada keluarga Lim dan Lie.

Daerah Hotel Pasar Baroe memiliki keunikan karena merekam perkembangan Kota Bogor sekaligus mempertemukan budaya dan arsitektur Tionghoa-Eropa. "Pada tahun 1870 daerah di sekitar Hotel Pasar Baroe, yaitu Kelenteng Pasar Bogor masih sepi dan hanya tanah lapang. Baru pada tahun 1890-an hingga 1900-an awal, mulai banyak berdiri bangunan permanen di kawasan itu sehingga daerah Pasar Bogor dipenuhi bangunan berarsitektur khas hingga sekarang,” katanya.

Kini Hotel Pasar Baroe sedang tinggal menunggu nasibnya. Kayu yang menjadi dominasi bangunan tersebut, sudah mulai lapuk di makan usia. Selain itu juga kaca yang menutupinya juga banyak yang pecah. Informasi yang Bogornow peroleh Pasar Bogor akan mengalami peremajaan dan bekas hotel itu tidak tertutup kemungkinan akan terkena dampaknya yaitu akan dijadikan tempat bagi para Pedagan Kaki Lima. (Berita Bogor)

Nama-Nama Jalan di Bogor Saat ini dan di Tahun 1920

10/16/2015 12:31:00 PM Add Comment
Nama-Nama Jalan di Bogor Saat ini dan di Tahun 1920 - Berikut adalah Nama-nama saat ini Jalan di Kota Bogor dan sebutannya di Tahun 1920an (ref: Gemeentekaart van Buitenzorg 1920 - KIT Library):


  • Jalan Merdeka = Tjikeumeuh Weg
  • Jalan Ir.H.Juanda = Groote Weg
  • Jalan Kapten Muslihat = Bantammer weg
  • Jalan Panaragan Kidul = Gestich Weg
  • Jalan Mayor Oking = Bioscoop Weg
  • Jalan Nyi Raja Permas = Stations Weg
  • Jalan Dewi Sartika = Park Weg
  • Jalan M.A Salmun = Gasfabriek Weg
  • Jalan Sawo Jajar = Laan Van Der Wijk
  • Jalan Abesin = Wetselaars Weg
  • Gang Ardio = Parallel Weg
  • Jalan Gedong Sawah = Mulo Straat
  • Jalan Gedong Sawah 4 = Binnen Weg
  • Jalan Pengadilan = Hospitaal Weg
  • Jalan Kartini = Verlengde Feith Weg
  • Jalan Semboja = Schenck De Jong Weg
  • Jalan Dr.Semeru = Tjilendek Weg
  • Jalan Mawar = Gang De Leau
  • Jalan Ciwaringin 1 = Gang Edwards
  • Jalan Perintis Kemerdekaan = Gang Kebon Djahe
  • Jalan Kantor Batu = Museum Laan
  • Jalan Gereja = Kerk Weg
  • Jalan Sekolahan = School Weg
  • Jalan Empang = Tandjakan Empang
  • Jalan Siliwangi = Handels Straat
  • Jalan Batu Tulis = Koepel Weg
  • Jl. Jalak Harupat jaman tahun 60-an namanya Jl. Oto Iskandardinata bersambung dengan Jl. Oto Iskandardinata yang di sisi selatan Kebun Raya. 
  • Jl. Ir. H. Djuanda pernah disebut Post Weg (karena kantor pos besar dulu adalah kantor pos Kebon Raya) terus jadi Jl. Raya alias Groote Weg baru tukar nama lagi jadi Jl. Ir. H. Djuanda. 
  • Jalan yang di ujung Jl. Empang (Raden Saleh sekarang) sampai ke sekitar Suryakencana namanya Jl. Perniagaan. 
  • Jl. Cimanggu Kecil dulunya Gang Bisboel. 
  • Jl. Kol Endjo Martadisastra dulunya Kampung Teplan. 
  • Jl. R.E. Martadinata dulunya Jl. Bubulak. 
  • Jalan yang ada SMAN 5 dulunya Gang Inspeksi. 
  • Jl. Padjadjaran dari mulai Internusa sampai ke depan Fakultas Peternakan IPB dulunya Jl. Gunung Gede.
  • Jalan Ciwaringin yang di samping kantor Kodam dulunya Jl. Tjiwaringin Kalapa Senggeh. 
  • Perumahan Taman Cimanggu dulunya Kampung Pabangbon.


Untuk nama jalan yang tidak disebutkan, sebagian besar, tidak berubah namanya. Seperti Jalan Panaragan dulunya Panaragan Weg. Gang Menteng dari dulu sampai sekarang tetap bernama Gang Menteng. Jalan Ciwaringin dulunya memang bernama Tjiwaringin Laan. Gang Slot, dari dulu tetap bernama Gang Slot. Jalan Pledang, dulunya memang bernama Pledang Weg. Jalan Panaragan memang dari dulu sudah bernama Panaragan Weg. Mantarena, dulunya juga bernama Mantarena. Jalan Pancasan dari dulu sudah bernama Pantjasan Weg.



Ada juga beberapa nama jalan di Bogor yang saat ini terpecah menjadi beberapa nama jalan. Seperti Tjikeumeuh Weg, saat ini menjadi terbagi menjadi tiga jalan, yaitu: Jalan Merdeka, Jalan Tentara Pelajar dan Jalan Cimanggu. Groote Weg saat ini terbagi menjadi beberapa jalan, yaitu: Jalan Ir.H Juanda dan Jalan Jend Sudirman.

Namun ada juga nama jalan yang dulu belum ada karena memang masih berupa rawa atau hutan, atau memang tidak dicantumkan di peta, seperti Jalan Jalak Harupat dan Jalan Pajajaran.  (Berita Bogor)

Dramaga Jadi Kampus IPB

10/14/2015 11:33:00 AM Add Comment
Dramaga Jadi Kampus IPB - Kampung Dramaga sejak 1 September 1963 telah menjadi Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Dramaga dalam bahasa Sunda artinya Pelabuha. Bagaimana mungkin ada pelabuhan di kota Bogor? Ternyata pada masa Pakuan Pajajaran terdapat pelabuhan penting di Kampung ini. Pelabuhan ini arus barang dibawa dengan perahu. Komoditas yang dibawa perahu terdiri dari lada, kopi dan kapulaga. Dari pelabuhan ini melalui kali Cihideung dibawa ke Sunda Kalapa.


Johannes Rach, seorang perwira dan juga pelukis VOC mengambil gambar kampung Dermaga pada 1772 saat mengikuti perjalanan Gubernur Jenderal Van der Parra meninjau kegiatan arus barang komoditas di Dermaga. Gubernur Jenderal bersama istrinya dalam gambar ini tampak tengah dipayungi saat menuju Dermaga Kali Cihideung. Kala itu angkutan di dominasi melalui sungai.



Dalam gambar tampak sepasukan tentara dengan memegang lembing berbaris siap memberi hormat kepada gubernur jenderal dan rombongan. Di belakangnya tampak sejumlah kapal layar dengan empat bendera (Belanda): merah, putih dan biru tengah merapat di kali Cihideung. Inilah yang menyebabkan kawasan ini dinamakan Dermaga sampai sekarang. Dalam gambar goresan tangan pelukis Rach terlihat betapa sibukya kegiatan bongkar muat di Dermaga pada abad ke-18. Terlihat sejumlah gerobak sado yang membawa dan mengangkut barang sementara di tepi sungai terlihat kantor bea cukai dan tempat menyimpan berbagai komoditas.

Komoditas dibawa melalui sungai Cihideung, kali Cideng - orang Jakarta menyebutnya, lalu berbelok di kali Opak, seterusnya tiba di Kali Besar. Di sini komoditas itu dilelang kepada para pembeli yang datang dari mancanegara. Begitu pentingnya dermaga Bogor saat itu, sampai membuat gubernur jenderal sendiri melakukan peninjauan ke pelabuhan sungai (dramaga) tersebut. Menurut majalah ‘Kita Sama Kita’, komoditas pertanian tersebut dihasilkan oleh para petani dan pedagang Tionghoa di Leuwiliang di Ciampea, Bogor. (Berita Bogor)

Naik Joli ke Bogor

10/12/2015 08:16:00 AM Add Comment
Naik Joli ke Bogor - Bogor saat ini sepertinya sudah menyatu dengan Jakarta. Angkutan umum dari Jakarta menuju Bogor atau sebaliknya tidak pernah henti selama 24 jam nonstop. Dalam sehari puluhan kali KRL pulang pergi mengangkut penumpang yang berjubelan. Sebelum dibuka jalur kereta api  di tahun 1873, mereka yang ingin pergi ke Bogor harus berpikir dua kali. Malahan sampai pertengahan 1950-an, hanya ada satu jalan kereta api ke Bogor melalui Cibinong. Angkutan didominasi oleh ‘oplet', yang harus tersendat-sendat karena jalan rayanya hanya dua jalur. Jalan raya Ciputat – Parung – Bogor, kala itu masih jalan tanah.

Jalan raya Jakarta – Bogor yang berjarak 60 km dibangun oleh gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Ia juga yang membangun Istana Bogor alias Buitenzorg alias ‘Sains Souci’ terletak disebuah perbatasan perkebunan kopi yang namanya sama. Dikabarkan, Daendels pergi ke Bogor dengan menaiki kereta yang ditarik 30 ekor kuda,  agar setiap saat siap menghadapi lumpur di kota hujan ini.

Untuk masyarakat awam pergi ke Bogor menggunakan kahar, sejenis pedati yang ditarik dua ekor kuda. Kahar mampu membawa empat orang penumpang. Biaya untuk membawa sampai Bogor 12,5 gulden. Ongkos ini cukup mahal bila diingat harga beras 3,5 sen per kg. Jadi, biayanya kurang lebih harga 300 kg beras! Atau bisa juga naik perahu menuju Bogor.


Kalau bepergian sendirian, bisa menyewa joli. Joli ini adalah tandu yang dipikul empat orang. Dua orang pemikul di depan, dua orang di belakang. Naik joli membutuhkan waktu lebih lama dari waktu tempuh dengan naik kahar yaitu mencapai 8 – 10 jam. Apalagi jalan Jakarta – Bogor kala itu masih sunyi. Jarang ditemui warung atau rumah makan ditengah jalan. Jadi mereka yang bepergian harus membawa sendir bekal makanan dan minuman yang cukup banyak.

Tidak jelas berapa ongkos angkut ke Bogor dengan joli. Sejauh ini tidak ada laporan terjadi perampokan atau kejahatan ditengah perjalanan. Bepergian ke Bogor, baik melalui kahar atau joli kala itu dari pusat kota Batavia, yaitu dari Jl Pos atau Grote Postweg depan gedung Museum Sejarah DKI Jalan Fatahila, dekat stasion KA Kota. Di tempat inilah biasanya para sais kahar dan kuli angkut ngetem menunggu penumpang.


Pada masa Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles (1811 – 1815), sangat menyenangi kota hujan ini. Raffles berjasa dalam membangun Kebun Raya Bogor, yang letaknya bersebelahan dengan istana Buitenzorg. Malahan istri pertamanya, Olivia Miriamne, dimakamkan di Kebon Raya. Pendiri kota Singapura ini, selama empat tahun pemerintahannya di Nusantara, beliau jarang berada di Batavia. Raffles lebih banyak berada di lingkungan Istana Bogor yang dibangun Daendels. Ia mengadakan perjalanan dari Batavia ke Buitenzorg dengan kereta kebesarannya yang ditarik delapan ekor kuda. Ia juga sering tinggal di Istana Cipanas. Di kedua istana ini, Raffles sering berpesta-pora dengan jamuan mewah dan banjir sampanye.  (Berita Bogor)

Istana Bogor

10/11/2015 11:35:00 AM Add Comment
Istana Bogor - Istana Kepresidenan Bogor berada di Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat.  Istana Bogor terletak sekitar 60 kilometer dari Jakarta atau 43 kilometer dari Istana Cipanas. Istana Bogor berada di atas tanah berkontur datar, seluas 29 hektar. Karena berada di ketinggian 290 meter dari permukaan laut dan beriklim sedang, gak heran kalau Udara di sekitar Istana Bogor sejuk sangat sesuai untuk peristirahatan. Alam disekitar istana ini juga indah dan terasa nyaman, halamannya ditata seakan-akan tampak laksana permadani hijau yang terhampar mengelilingi bangunan istana. Sejauh mata memandang, terbentang hamparan rumput yang segar menghijau, yang dirindangi oleh lebatnya aneka daun pepohonan terdiri dari 346 jenis pohon; enam ratusan ekor rusa tutul (Axis-axis) yang bergerombol kesana-kemari; serta kolam-kolamnya berhias bunga teratai dan air semburat.



Sejarah Istana Bogor dimulai saat Gubernur Jenderal Belanda bernama G.W. Baron van Inhoff, mencari tempat peristirahatan dan berhasil menemukan sebuah pesanggrahan (10 Agustus 1744) yang diberi nama Buitenzorg (artinya bebas masalah/kesulitan). Gubernur Baron sendiri yang membuat sketsa dan membangunnya (1745-1750) mencontoh bangunan Blehheim Palace, kediaman Duke of Malborough, yang terletak dekat kota Oxford di Inggris.



Pada tanggal 10 Oktober 1834 terjadi musibah gempa bumi berat mengguncang kota bogor dan sekitarnya sehingga istana bogor rusak berat. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX. Pada tahun 1870, Istana Bogor ditetapkan menjadi kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang dengan terpaksa harus menyerahkan istana bogor ini kepada Jenderal Imamura, pemeritah pendudukan Jepang.



Dalam sejarah telah tercatat sebanyak 44 gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana ini. Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor (1950) mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia.  (Berita Bogor)

Tempat Rekreasi di Bogor pada Tahun 1970

10/11/2015 07:40:00 AM Add Comment
Tempat Rekreasi di Bogor pada Tahun 1970 - Pada tahun 1970, Tempat rekreasi di Bogor yang banyak didatangi pengunjung adalah Kebon Raya Bogor. Untuk pergi ke Bogor, saat itu biasa menggunakan mobil oplet yang masih satu jalur yaitu Bogor-Jakarta dan Jakarta-Bogor. Membangun jalan tol masih belum menjadi impian pemerintah kota Jakarta saat itu. Jalan raya Ciputat-Parung-Bogor masih belum diaspal, tapi, herannya tidak terjadi kemacetan seperti sekarang.



Pergi ke Puncak kala itu nikmatnya bukan main, meski harus naik kendaraan dan bus tanpa AC. Dari Bogor sampai Puncak di kiri kanan jalan belum banyak vila seperti saat ini. Udara masih bersih dan hawanya jauh lebih dingin dari saat ini. Gak ada terjadi kemacetan seperti sekarang ini — yang membuat orang harus menghadapi stres saat pergi dan pulang dari Puncak, Bogor.


 Tempat rekreasi terkenal di Puncak saat itu adalah Taman raya Cibodas. Biasanya beberapa hari setelah Lebaran banyak yang memilih untuk berekreasi ke Cibodas dengan menyewa truk. Bung Karno dulu sering membawa para tamu negara ke Cibodas, seperti Presiden Voroshilov dari Uni Soviet, yang sangat mengagumi taman rekreasi Cibodas. Dia bersama Bung Karno bisa berlama-lama berada di daerah yang sejuk dan penuh taman itu.  (Berita Bogor)

Kota Bogor

10/10/2015 10:01:00 PM Add Comment
Kota Bogor, sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, Kota Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (boit'n-zĂ´rkh) yang berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram". Kota Bogor terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Dulu luasnya 21,56 km², namun saat ini telah berkembang menjadi 118,50 km² dan berpenduduk 1.934.796 jiwa (BPS 2010). 

Kota Bogor


Kota Bogor juga dikenal dengan julukan kota hujan, karena Kota Bogor memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Saat ini Kota Bogor memiliki 6 (enam) kecamatan, yaitu Bogor Barat, Bogor Selatan, Bogor Tengah, Bogor Timur, Bogor Utara, dan Tanah Sareal serta dibagi lagi menjadi 68 kelurahan. 

Tanggal 3 Juni dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor 3 Juni. Tanggal itu diambil karena pada tanggal 3 Juni 1482 adalah saat penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.

Bogor juga berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dibuat sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa, Bogor berarti pohon kawung dan kalau digunakan sebagai kata kerja "dibogor" berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, pabogoran berarti kebun kaung, sedang pada bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, L Bogor berarti droogetapte kawoeng (pohon enau yang telah habis disadap) atau bladerlooze en taklooze boom (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Dengan kata lain istilah tersebut sama dengan pengertian kata pugur atau pogor.  (Berita Bogor)